$ title
Jangan dibuat Rumit!

Siapa yang tidak pusing menghadapi kerumitan. Kerumitan ini pula yang bisa mengancam kelangsungan hidup organisasi atau manajemen. Tapi fakta di lapangan membuktikan bahwa organisasi manajemen yang besar umumnya membawa kerumitan tersendiri. Celakanya, kondisi tersebut dibiarkan "kusut" sehingga akhirnya justru membelenggu pergerakan organisasi itu sendiri.
Banyak kasus menunjukkan bahwa perusahaan besar berskala global sekalipun dibuat tidak berdaya dengan simpul manajemen yang rumit. Korporasi yang semula bergerak dinamis dan selalu siap menghadapi perubahan tatanan bisnis maupun lingkungan di sekitarnya, lambat laun seperti kehilangan orientasi. Situasi yang menyedihkan ini tak ubahnya seperti rumah yang tidak terurus.
Rapor perusahaan yang sudah terjangkiti virus rumit semacam ini mengenaskan lantaran kinerja makin terpuruk. Pendek kata, semua indicator manajemennya bekerja di bawah normal. Akuntabilitas tidak jelas, keputusan direksi tidak bisa di jalankan, dan dan informasi berharga menguap begitu saja. Ujung-ujungnya, karyawan bekerja tanpa motivasi. Mereka seperti ayam kehilangan induknya, tidak tahu apa yang harus di kerjakan.
Eksekutif yang masih "waras" tentu tidak ingin kondisi seperti itu berlarut. Untuk mencegah agar rasa frustasi tidak semakin parah, perlu segera di ambil langkah-langkah penyelamatan yang bersifat drastic dan revolusioner.
Meminjam istilah "Simplicity-minded Management", kerumitan tersebut harus digempur habis hingga ke akar-akarnya. Tidak ada pihak yang paling berwenang melakukan "revolusi manajemen" seperti ini selain pimpinan puncak manajemen tersebut. Karena secara gamblang dan jelas bahwa kerumitan terjadi dan akan berlarut-larut karena tidak adanya perencanaan yang matang, organisasi yang tepat, pelaksanaan yang detail dan pengawasan ketat yang kontinyu dan menyeluruh oleh pimpinan manajemen organisasi atau perusahaan tersebut.
Dalam kaitan itu, Anda perlu memperhatikan lima hal penting ;
Pertama, jadikan simplifikasi sebagai tujuan dan bukan sebagai nilai (virtue). Oleh karena itu ia harus dimasukan sebagai tema strategi perusahaan. Tetapkan pula target spesifik untuk mengurangi kompleksitas. Untuk itu tidak ada salahnya manajemen memberikan insentif bagi karyawan yang berorientasi pada "kesederhanaan".
Kedua, sederhanakan struktur organisasi dengan memangkas birokrasi. Sebaliknya, perkuat rentang pengawasan sambil melakukan konsolidasi atas fungsi-fungsi serupa.
Ketiga, sederhanakan produk dan jasa. Ini dilakukan dengan menetapkan strategi portofolio produk. Selain itu perlu di kaji pembatasan, penghentian atau penjualan produk yang bernilai rendah.
Keempat, disiplin dalam menjalankan bisnis dan pengelolaan perusahaan. Untuk itu perlu di rancang struktur pengambilan keputusan (melalui dewan atau komite), perampingan proses operasi (perencanaan dan pengajuan anggaran) serta penglibatan karyawan hingga tingkat "akar rumput".
Kelima, sederhanakan pola-pola yang bersifat pribadi. Aspek ini mencakup pembukaan kran komunikasi yang macet, pengaturan waktu rapat, dan memfasilitasi bentuk-bentuk kerjasama organisasi.
So, kenapa harus di buat rumit?
Visitors :12100 Org
Hits : 36781 hits
Month : 3099 Users