$ title
Lebaran = Mudik = Pulang Kampung

Mudik menjelang lebaran memang selalu menjadi fenomena tiap penghujung bulan suci ramadan. Suasana terminal bus, stasiun kereta api, pelabuhan serta bandara pun dipadati pemudik yang ingin pulang ke kampung halamannya. Animo mudik bersama itu pun membludak.
Kebanyakan
orang mengatakan bahwa mudik itu memang penting. Mudik dan berkumpul
bersama keluarga di saat lebaran merupakan suatu kebutuhan yang harus
dipenuhi. "Mudik itu adalah pelunasan kerinduan akan nilai-nilai
primodialisme yang ada pada diri kita.
Makna itu, akan sangat
terasa jika seseorang berada dirantau. "Saat terpisah dari kampung
halaman, kita selalu disibukkan dengan segala aktifitas. Untuk itu
perlu sekali saat-saat untuk mengembalikan kenangan kita akan masa lalu.
Primodialisme,
tidak selalu bersifat negatif. Ada kalanya primodialisme juga
bermanfaat. Itu bisa terjadi saat seseorang tengah berada di daerah
uncertainty dimana semua terasa asing dan tidak pasti. Lalu saat itu
kita bertemu dengan unsur-unsur primodialisme. Pasti akan cepat
melekat, bahkan merasa tentram. "Contohnya ada orang Jakarta merantau
di Surabaya. Saat dia melihat ada kendaraan ber plat B pasti dia akan
merasakan kepuasan tersendiri. Bahwa di daerah barunya masih ada kawan
se-daerah.
Pada sejarah agama Islam pun ditunjukkan betapa
bermanfaatnya nilai-nilai primodialisme. Dicontohkan seperti pada
bani-bani yang tersebar. Setiap bani selalu rekat karena ada suatu
nilai-nilai melekat yang terus dijaga, kekeluargaan yang solid. "Jadi
memperkuat basis nilai primodialisme itu perlu. Salah satunya terlihat
saat lebaran.
Setiap orang pasti mempunyai kenangan yang melekat
saat kecil. Entah itu suasana, makanan atau bahkan warung di kampung
halaman. Hal-hal yang melekat itulah salah satu unsur-unsur
primodialisme. Dan itu sekali-kali perlu dibenturkan lagi.
Pada
hari raya Idul Fitri nanti kita sekeluarga juga akan mudik ke kampung
halaman. Bagi yang sudah berkeluarga hari pertama akan bertandang ke
rumah orang tua, di lanjutkan lebaran kedua akan bertandang ke rumah
mertua. Dan akan terasa perjuangannya kalau jarak lokasi antara orang
tua dan mertua berbeda kota.
"Yang kita tunggu-tunggu saat
lebaran ada dua. Pertama berkumpul dengan saudara. Lalu, makan bersama
mereka keroyokan tanpa aturan. Sama seperti saat-saat dulu waktu kecil,
sambil mengenang masa silam.
Setelah makan bersama-sama keluarga, masih tetap dalam suasana kumpul bersama masing-masing asyik bercanda tawa satu dengan yang lain. Bercerita suka dan duka selama 1 tahun berselang. Dan tanpa terasa, hari-hari lebaranpun terlewat sudah. Kita kembali ke kota untuk melakukan aktivitas hari-hari yang seakan melenyapkan suasana bahagia walaupun hanya beberapa hari saja.
Semoga kenangan indah yang terukir dalam sejarah keluarga, akan selalu memberikan inspirasi dan kekuatan kita untuk selalu bersemangat dari tahun ke tahun mudik dan berlebaran di kampung halaman.
Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
Visitors :12100 Org
Hits : 36783 hits
Month : 3099 Users