headerphoto

  $ title

Senin, 1 Februari 2010 15:56:06 - oleh : admin

Lebaran = Mudik = Pulang Kampung

Mudik menjelang lebaran memang selalu menjadi fenomena tiap penghujung bulan suci ramadan. Suasana terminal bus, stasiun kereta api, pelabuhan serta bandara pun dipadati pemudik yang ingin pulang ke kampung halamannya. Animo mudik bersama itu pun membludak.

Kebanyakan orang mengatakan bahwa mudik itu memang penting. Mudik dan berkumpul bersama keluarga di saat lebaran merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. "Mudik itu adalah pelunasan kerinduan akan nilai-nilai primodialisme yang ada pada diri kita.

Makna itu, akan sangat terasa jika seseorang berada dirantau. "Saat terpisah dari kampung halaman, kita selalu disibukkan dengan segala aktifitas. Untuk itu perlu sekali saat-saat untuk mengembalikan kenangan kita akan masa lalu.

Primodialisme, tidak selalu bersifat negatif. Ada kalanya primodialisme juga bermanfaat. Itu bisa terjadi saat seseorang tengah berada di daerah uncertainty dimana semua terasa asing dan tidak pasti. Lalu saat itu kita bertemu dengan unsur-unsur primodialisme. Pasti akan cepat melekat, bahkan merasa tentram. "Contohnya ada orang Jakarta merantau di Surabaya. Saat dia melihat ada kendaraan ber plat B pasti dia akan merasakan kepuasan tersendiri. Bahwa di daerah barunya masih ada kawan se-daerah.

Pada sejarah agama Islam pun ditunjukkan betapa bermanfaatnya nilai-nilai primodialisme. Dicontohkan seperti pada bani-bani yang tersebar. Setiap bani selalu rekat karena ada suatu nilai-nilai melekat yang terus dijaga, kekeluargaan yang solid. "Jadi memperkuat basis nilai primodialisme itu perlu. Salah satunya terlihat saat lebaran.

Setiap orang pasti mempunyai kenangan yang melekat saat kecil. Entah itu suasana, makanan atau bahkan warung di kampung halaman. Hal-hal yang melekat itulah salah satu unsur-unsur primodialisme. Dan itu sekali-kali perlu dibenturkan lagi.

Pada hari raya Idul Fitri nanti kita sekeluarga juga akan mudik ke kampung halaman. Bagi yang sudah berkeluarga hari pertama akan bertandang ke rumah orang tua, di lanjutkan lebaran kedua akan bertandang ke rumah mertua. Dan akan terasa perjuangannya kalau jarak lokasi antara orang tua dan mertua  berbeda kota.

"Yang kita tunggu-tunggu saat lebaran ada dua. Pertama berkumpul dengan saudara. Lalu, makan bersama mereka keroyokan tanpa aturan. Sama seperti saat-saat dulu waktu kecil, sambil mengenang masa silam.

Setelah makan bersama-sama keluarga, masih tetap dalam suasana kumpul bersama masing-masing asyik bercanda tawa satu dengan yang lain. Bercerita suka dan duka selama 1 tahun berselang. Dan tanpa terasa, hari-hari lebaranpun terlewat sudah. Kita kembali ke kota untuk melakukan aktivitas hari-hari yang seakan melenyapkan suasana bahagia walaupun hanya beberapa hari saja.

Semoga kenangan indah yang terukir dalam sejarah keluarga, akan selalu memberikan inspirasi dan kekuatan kita untuk selalu bersemangat dari tahun ke tahun mudik dan berlebaran di kampung halaman.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

kirim ke teman | versi cetak

Berita "BERITA TERKINI" Lainnya